» » PAHIT DAN MANIS PERJUANGAN MENUJU SEKOLAH KEDINASAN

PAHIT DAN MANIS PERJUANGAN MENUJU SEKOLAH KEDINASAN

diterbitkan pada Artikel, Kisah-Kisah Inspiratif | 0

Saya mempunyai Kedua orangtua yang berprofesi sebagai pekerja. Bapak saya bekerja di perusahaan travel, dan Ibu saya bekerja di sebuah bank. Saya mempunyai satu adik laki laki yang masih menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama di Pontianak.

Sebelumnya saya sudah mengikuti perkuliahan di Universitas Tanjungpura dengan mengambil program studi Teknik Sipil. Akan tetapi di tengah jalan saya memutuskan untuk mengikuti serangkaian tes untuk masuk sekolah kedinasan PKN STAN dengan alasan bahwa PKN STAN cukup menjanjikan untuk menghadapi masa depan.

Perjuangan saya masuk sekolah kedinasan STAN bermula dari keinginan untuk tidak menyusahkan orang tua pada saat kuliah. Saya mengutarakan niat saya untuk melanjutkan kuliah di sekolah kedinasan  PKN STAN kepada orang tua saya, orang tua saya awalnya ragu dengan niat saya dikarenakan saya sudah mengikuti perkuliahan yang sudah berjalan hampir satu setengah semester lamanya namun akhirnya orang tua saya merestui anaknya untuk mengikuti serangkaian tes untuk masuk sekolah kedinasan  PKN STAN. Setelah mendapat restu orang tua, saya mencari tempat bimbingan belajar untuk masuk sekolah kedinasan. Dengan waktu belajar yang lumayan sempit yaitu sekitar satu bulan lebih lamanya dikarenakan jadwal tes pertama untuk masuk sekolah kedinasan PKN STAN yaitu Tes Potensi Akademik lebih cepat dibanding tahun lalu, saya harus belajar ekstra keras. Rintangan seperti hujan lebat disertai petir yang menyambar saya lewati demi masa depan yang lebih cerah.

Di bimbingan belajar tempat saya menaruh harapan dan usaha agar lulus dengan waktu yang ada, saya dan teman-teman satu bimbingan diberi materi dan soal-soal yang tak ada habisnya. Setelah pulang bimbingan biasanya saya kembali mengulang materi yang tadi disampaikan. Saya mengerjakan soal demi soal dan biasanya setelah saya selesai mengerjakan soal, saya beristirahat dengan bermain game yang tetap membuat otak saya bekerja seperti puzzle, game olahraga atau semacamnya. Dan Tak lupa pada saat selesai sholat saya memanjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberi pertolongan dalam menghadapi serangkaian tes kelak. Beberapa hal yang sering saya lakukan dalam perjalanan menuju tes adalah bersedekah. Bersedekah mulai menjadi kegiatan rutin saya mengingat jalan mendapatkan satu kursi untuk menimba ilmu di sekolah kedinasan  PKN STAN sangat tidak mudah, dan dengan bersedekah saya yakin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membantu saya menghadapi situasi dan kondisi apapun InsyaAllah.

Pada saat perhitungan hari menjadi perhitungan jam saya berusaha mempersiapkan diri saya sesiap mungkin untuk mengisi soal soal yang akan diberikan agar pada saat waktunya datang, saya bisa yakin saya bisa lulus tes tersebut. Saya tidur lebih awal demi mendapatkan otak yang segar dan tidak lupa sarapan pada pagi harinya biar tidak keroncongan pada saat mengisi soal dan juga sebagai nutrisi bagi otak. Alat tulis juga sudah disiapkan.

Pada hari di mana tes akan diselenggarakan saya pun berangkat dengan keyakinan lulus sangat tinggi. Sebelum memulai mengisi soal, tak lupa saya panjatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberi kelancaran dalam mengisi soal soal yang ada. Setelah saya selesai mengisi soal-soal pada rangkaian tes pertama saya ucapkan rasa syukur saya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas bantuanNya dalam mengerjakan soal. Saya sadar bahwa perjalanan untuk mendapatkan satu kursi di sekolah kedinasan PKN STAN masih panjang, tetapi saya yakin lulus sampai tahap akhir karena Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu berada disamping saya.

Di beberapa hari setelah saya mengerjakan soal timbul rasa was-was, tetapi perasaan was-was tersebut semakin hari semakin hilang dikalahkan oleh keyakinan saya untuk lulus. Dan pengumuman kelulusan tes pertama semakin dekat dan saya cukup berdebar. Dan pada saat tiba saatnya waktu kelulusan diumumkan, saya mengucap rasa syukur kepadaNya setelah diumumkan saya lulus tes tahap pertama. Saya harap ini menjadi awal yang baik buat saya.

Setelah lulus tes tahap pertama, saya mempersiapkan jiwa dan raga saya untuk mengikuti pelaksanaan tes tahap kedua yaitu Tes Kesehatan dan Kebugaran, dan kebetulan lokasi tes tidak berada di daerah saya yaitu di Pontianak tetapi di daerah Jakarta. Pada saat waktu berangkat ke Jakarta saya dan kedua teman dekat saya yang Alhamdulillah juga lulus ditemani abang salah satu teman saya dan Bapak saya pergi menuju Jakarta menggunakan pesawat. Kami tiba sekitar lima hari sebelum hari-H dan di Jakarta kami menumpang tidur di rumah keluarga saya di daerah Slipi. Hari-hari di Jakarta kami lalui dengan berjalan-jalan di bawah teriknya matahari dan tak lupa kami menjaga kesehatan kami selama di Jakarta. Untuk menghilangkan rasa bosan biasanya saya dan teman-teman juga mengisi soal-soal Tes Kompetensi Dasar yang juga bisa dikatakan sulit karena memang sulit. Kami bercerita tentang bagaimana perasaan masing-masing orang tua kami setelah tahu anaknya lulus tes tahap pertama.

Dan jujur saat saya tahu kami menginap di tempat keluarga saya ada rasa sedikit tidak enak pada keluarga saya yang telah memberikan kenyamanan kepada kami. Maka dari itu, satu hari sebelum tes tahap kedua saya, teman-teman, dan orang tua saya memilih untuk menginap di penginapan yang berlokasi dekat dengan tempat tes di Pusdiklat Bea dan Cukai daerah Jakarta Barat. Juga agar tidak terlambat pada saat ingin mengikuti tes. Kami sampai di penginapan pada sekitar pukul tiga sore. Pada saat di penginapan, saya disambut kerabat Ibu saya. Beliau inilah yang berjasa mencarikan kami tempat tinggal sementara di sekitar Pusdiklat. Kami memanggil dia dengan sebutan “Bang”. Setelah berbincang sebentar kami lalu istirahat dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul lima sore kami bersiap untuk melaksanakan sholat maghrib dan sekalian mencari santapan di daerah dekat penginapan kami. Setelah kami sholat dan mencari makan, kami kembali istirahat di penginapan, kami tidur awal untuk menghemat tenaga.

Dan tak lupa saya sholat Tahajud, dan berdoa memohon kemudahan dan kelancaran dalam tes tahap dua ini. Setelah itu pukul 5 pagi kami berangkat menuju destinasi dan sesampainya di sana sudah ramai orang-orang yang baik peserta maupun orang tua yang mengantar anak-anaknya. Kami lalu langsung menuju tempat registrasi dan menunggu antrian giliran tes. Saya dan teman-teman mendapat giliran lari sekitar jam 10 pagi di mana cuaca jam 10 di Jakarta memang sudah panas. Sebelum tes saya persiapkan mental agar tidak grogi. Pada saat antrian kami dipanggil, kami lalu ikut tes kesehatan. Alhamdulilllah setelah kami lulus tes kesehatan, kami diizinkan lari. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai target saya yakni 5 putaran. Saya paksa diri saya untuk terus berlari mencapai target dan Alhamdulillah target tercapai. Setelah kami selesai tes tak lupa kami ucapkan rasa terima kasih kami kepadaNya dan kepada orang-orang terdekat atas bantuan mereka.

Hari demi hari menunggu hasil tes dan saya sudah berada di Pontianak. Selama menunggu saya mengerjakan beberapa soal TKD. Pada saat pengumuman tes tiba kami kembali mengucap rasa syukur atas kehendakNya karena kami kembali lolos di tahap kedua. Kami lalu mempersiapkan diri untuk menghadapi tes tahap selanjutnya. Kami latihan mengisi soal-soal yang kami punya sebagai bekal kami untuk menghadapi tes. Kami kembali berangkat ke Jakarta sekitar hari sebelum tes dilaksanakan. Kami mencari penginapan murah di Jakarta, dan kami menemukan satu yang kami anggap murah dan dekat dengan lokasi tes yaitu di sekolah ikatan dinas PKN STAN Bintaro. Kami datang ke lokasi, sesampainya di lokasi tempat tidak ditemukan dan kami pun memutuskan untuk turun dan mencari penginapan kami sendiri. Kami seperti tersesat karena tidak mendapati penginapan yang kami tuju. Akhirnya setelah jauh berjalan kami menyewa taksi dan dia bersedia mengarahkan kami ke tempat penginapan yang bisa ditempati.

Setelah sampai di sana kami lalu istirahat, dan tak lupa sholat tahajud dan sahur karena waktu sudah memasuki bulan Ramadhan pada saat itu. Hari-hari kami lalui dengan mengisi soal-soal. Dan pada saatnya tiba, kami mempersiapkan segala perlengkapan kami untuk “berperang” kami kerahkan semua usaha kami demi tes tahap akhir ini. Dan pada akhirnya hari itupun tiba, jantung kami berdegup kencang dan seperti apa yang saya yakini Alhamdulillah saya lulus tes tahap akhir untuk masuk di PKN STAN. Ini tidak lepas dari bantuan dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, doa dan dorongan orang tua yang tiada habisnya serta doa-doa dari keluarga kami. Tanpa Allah dan mereka saya mungkin tidak akan punya kesempatan menimba ilmu di PKN STAN ini. Berdasarkan pengalaman, saya yakin dan percaya bahwa keyakinan serta doa adalah kunci untuk meraih sukses.

 

Leave a Reply