» » Perjuangan Masuk Politeknik Keuangan Negara STAN

Perjuangan Masuk Politeknik Keuangan Negara STAN

diterbitkan pada Artikel, Materi STAN | 0

Masuk Politeknik Keuangan Negara STAN-Banyak orang yang membicarakan bahwa setelah lulus SMA harus memasuki universitas universitas ternama seperti ITB, UI, ataupun UGM. Terlebih lagi hidup di kota pendidikan yang mempunyai universitas ternama di Indonesia, Universitas Gajah Mada. Namaku Bintang Fatimatuzahra, berasal dari SMA N 1 Pakem, Sekolah yang mungkin tidak banyak diketahui oleh orang banyak. Sekolah yang mungkin tidak banyak dibicarakan oleh orang. Output yang mungkin masih kurang baik di sekolahku. Namun, banyak yang mengharuskanku masuk di universitas. Namun, aku selalu teringat beban keluargaku, yang notabene belum bisa dikatakan keluarga sangat berkecukupan. Terlebih lagi, Ayah telah menghadap Allah SWT pada April 2015. Terasa sekali beban yang harus aku pikul, keluargaku semua perempuan sejak ditinggal Ayah. Mungkin telah menjadikan suatu kewajiban untuk harus menggantikan Ayah. Sejak SMP memang aku tertarik di UGM ataupun UB, namun aku pun juga sangat ingin Masuk Politeknik Keuangan Negara STAN. Aku selalu diberi tahu oleh Ayah bahwa jika kamu Masuk Politeknik Keuangan Negara STAN kamu akan langsung mendapatkan pekerjaan yang bisa dikatakan mapan. Aku selalu ingat kata kata Ayah tersebut.

Hari demi hari telah berlalu, aku sudah memasuki semester 2 kelas XII. Di semester ini aku harus mempunyai tujuan kemana aku harus melanjutkan pendidikanku, terlebih lagi aku lulusan SMA yang memang orientasinya harus melanjutkan pendidikan. Di semester inilah, aku mulai menyisihkan uang saku untuk membeli buku buku masuk di Perguruan Tinggi. Sedikit demi sedikit uang sakuku tersisihkan dan cukup untuk membeli buku ujian masuk Perguruan Tinggi. Dan di semester inilah aku membeli buku USM STAN dan juga pembahasan try out seharga seratus ribu rupiah. Seratus ribu rupiah bukan harga yang bisa dikatakan murah olehku, perlu pengorbanan untuk mengumpulkan uang seratus ribu rupiah ini.

Akhir Maret aku pun bersama teman teman mendaftar USM PKN STAN, dengan harapan aku bersama teman teman dapat Masuk Politeknik Keuangan Negara STAN disini bersama sama. Di sekolahku, SMA N 1 Pakem banyak yang mendaftarkan USM PKN STAN tersebut, namun track record sekolahku tidak dapat dikatakan bagus, tahun 2015 di sekolahku tidak ada yang dapat lolos USM PKN STAN, tahun tahun sebelumnya pun tiap angkatan hanya satu dua orang yang lolos. Terkadang track record itu pun membuat aku bersama teman teman minder.

Awal April, aku pun membayar biaya USM STAN yang nominalnya mungkin sangat besar bagiku. Banyak kendala tiap akan membayar USM STAN, uang tabungan sudah habis untuk membeli buku. Aku pun meminta kepada paman pamanku untuk dapat membayarkan biaya ujian tersebut. Pamanku pun memberiku uang untuk membayar biaya USM STAN tersebut, pastinya dengan harapan aku dapat masuk di PKN STAN.

April berjalan terasa cepat, 4 April tibanya Ujian Nasional. Hari hari sebelumnya aku belum belajar untuk USM STAN, aku fokuskan di Ujian Nasional. Memang Ujian Nasional bukanlah penentu kelulusan, namun Ujian Nasional adalah ujian yang sangat penting karena dengan Ujian Nasional mungkin dapat membanggakan kedua orang tua. Belajar dengan sungguh sungguh akhirnya aku pun mendapatkan Juara 1 Ujian Nasional.

Hari demi hari berlalu, tibalah verifikasi berkas. Tiap yang aku lalui mungkin ada cobaan tersendiri. Motor di rumah tidak ada, tidak ada yang bisa mengantarkanku verifikasi data di Balai Diklat Keuangan Yogyakarta yang berlokasi di Kalasan. Untungnya, ada teman yang mau mengantarkan ke Balai Diklat Keuangan yang berlokasi di Kalasan tersebut. Tibalah aku di BDK Yogyakarta, mengambil nomor antrian. Aku pun mengantri hingga hampir maghrib. Hingga akhirnya nomor antrianku dipanggil, dan aku menuju ruang dimana verifikasi berkas berlangsung.

Verifikasi berkas telah dilaksanakan, aku pun mendapatkan bukti peserta ujian. Selama rentang verifikasi berkas dengan USM aku jarang belajar untuk USM. Terlebih lagi aku merupakan ketua angkatan yang membuatku mengurusi hal hal seperti buku tahunan, pesta angkatan, hingga perpisahan. Namun, tiap malam dan pagi aku sempatkan untuk mengerjakan paket demi paket pada buku USM STAN. Belajarku pun tidak bisa dikatakan teratur, karena hanya setiap kesenggangan aku belajar mengerjakan soal soal di buku USM tersebut.

Tibalah hari yang ditunggu tunggu oleh mungkin seratus ribu peserta USM STAN. Aku bersama temanku pun menuju Universitas Sanata Dharma Kampus 1 yang berlokasi di Jalan Gejayan, Yogyakarta. Lorong demi lorong universitas aku lalui, hingga tibalah aku di Ruang PGSD 2 yang merupakan lokasiku mengikuti USM tersebut. Tibalah waktu soal sudah berada di hadapanku. Aku pun mengerjakan dengan sungguh sungguh dan sebanyak banyaknya, mungkin nilai minus satu justru tidak aku perhatikan. Sesekali aku pun teringat Ayahku, hingga akhirnya terkadang konsentrasi yang harusnya terfokus pada soal pun buyar. Waktu demi waktu berlalu, USM telah selesai.

Menunggu pengumuman USM pun seperti tidak ada harapan. Aku seperti acuh terhadap pengumuman USM, ataupun aku yang terlalu sibuk mengurusi acara di sekolah. Tibalah hari dimana semua peserta USM melihat nasib USM mereka, apakah lolos ataupun tidak. Aku pun tidak membuka pengumuman, melainkan pukul 10.00 temanku mengabariku bahwa aku lolos seleksi pertama. Namun, yang disayangkan temanku hanya 4 yang dapat lolos seleksi pertama.

Tes kesehatan dan kebugaran, mungkin aku sudah tidak ada harapan, karena setiap lari dengan waktu lama aku selalu merasakan sakit di bagian perut sebelah kiriku. 3 hari sebelum TKK baru aku mulai latihan, lari mengelilingi kampung. Tak lupa setiap kamis sore, aku mengunjungi makam Ayah, untuk menengok dan juga melepaskan kangen. Mungkin itu juga merupakan suatu perjuangan, karena setiap anak pasti ingin merasakan kehadiran Ayahnya disela sela usahanya, namun aku hanya bisa mengunjungi makam Ayahku, tidak dapat melihat rautan senyumnya.

Tes kesehatan dan kebugaran pun berlalu, akhirnya aku pun pergi ke BDK Yogyakarta di Kalasan untuk mengikuti tes kesehatan dan kebugaran. Melewati tes kesehatan semangatku pun surut, tepatnya di tes buta warna, aku buta warna parsial. Aku pun mengikuti tes selanjutnya seperti tidak ada harapan, aku lari dengan santai. Namun, entah karena terlalu santai aku tidak sadar bahwa aku telah dapat tujuh putaran. Setelah mengikuti tes kesehatan aku pun dijemput oleh kakek bersama ibuku. Aku berkata pada ibu mungkin harapanku Masuk Politeknik Keuangan Negara STAN sudah pupus, karena aku sudah tidak lolos tes buta warna, walaupun sebetulnya aku tau kalau yang menjadi persyaratan buta warna hanya Bea Cukai, namun aku tetap down. Hingga akhirnya ibuku pun berkata bahwa jika STAN memang jalanmu, kamu pasti di STAN, namun jika memang STAN bukan jalanmu, kamu pasti mendapatkan sekolah yang terbaik. Semangat itulah yang senantiasa terdengar di telingaku.

Aku pun setelah mengikuti TKK, aku harus mengikuti SBMPTN, terasa sekali fisik dan juga pikiranku terkuras. Aku pun mengikuti SBMPTN seperti acuh karena aku sekarang hanya fokus di STAN. Aku seperti tidak niat mengikuti SBMPTN.

Hari demi hari berlalu, aku pun hanya dapat berdoa kepada Allah. Aku melaksanakan sholat shunnah dan juga sholat fardhu di masjid. Tak lupa aku selalu menyempatkan diri membaca al Quran. Memang mungkin ibadahku belum dapat bisa dikatakan mendekati sempurna. Ilmu agamaku pun masih terbilang sedikit sekali. Namun bagiku do’a itu jangan sampai kau lepas, harus senantiasa kamu genggam dan juga kamu lakukan.

Tibalah hari pengumuman TKK, aku seperti tidak ada harapan aku dapat lolos TKK. Dan akhirnya aku pun membaca pengumuman, entah mengapa aku hanya melihat nama nama temanku, namaku sendiri seperti aku acuhkan. Dan akupun mendengar dari temanku lagi bahwa aku lolos TKK.

TKD, tes selanjutnya yang harus aku tempuh. Aku mengumpulkan uang lagi untuk membeli materi buku TKD. Harga buku TKD yang aku beli seharga delapan puluh ribu, yang bisa dikatakan lumayan bagiku. Aku pun membeli buku bersama temanku. Teman temanku banyak yang mendukungku agar aku dapat masuk STAN, namun seperti anak lainnya aku juga butuh semangat ayahku.

Tibalah hari TKD, aku diantar kakek ke BDK Yogyakarta. Kakekkulah yang senantiasa menemaniku untuk urusan apa apa, menggantikan peran ayahku. Tibalah aku di Lab Komputer tempat dimana aku melaksanakan TKD. Tes yang aku lalui terasa tidak bersemangat, aku hanya seperti mengerjakan permainan tanpa berfikir secara mendalam. Alhasil, nilai TKD ku pun hanya 350, aku pun sempat minder dengan hasil tersebut.

Pengumuman SBMPTN aku lolos Universitas Brawijaya Teknik Sipil, jurusan yang aku idam idamkan. Namun aku hanya mengisi form daftar ulang tanpa menguploadnya, masih menunggu hasil TKD. Hari demi hari aku lalui, pengumuman pun telah diumumkan, aku berhasil lolos masuk Politeknik Keuangan Negara STAN. Namun yang aku takutkan justru terjadi, aku ditempatkan di Balai Diklat Keuangan Pontianak. Mungkin semua orang akan berfikir dua kali untuk memutuskan apakah lanjut atau tidak jika penempatannya jauh.

Setelah berfikir dan mempertimbangkan, aku pun dengan mantap ingin meneruskan di PKN STAN. Paman pamanku dan Ibuku juga mendukungku. Tapi aku mungkin tidak kuat, karena aku tidak bisa melihat makam ayahku seperti biasanya setiap Kamis sore. Mungkin itulah sebuah pengorbanan dan juga perjuangan.

Dengan ditemani Pakde aku pun berangkat ke Pontianak, namun melihat tiket yang sangat mahal, rasanya pupus juga harapanku. Aku pun bercerita pada paman pamanku, dan syukur paman pamanku bersedia membantu membelikan tiket pesawatku. Dengan rasa deg degan karena merupakan pengalaman pertamaku naik pesawat. Aku pun daftar ulang dan kembali lagi ke Yogyakarta untuk melepas kangen karena mungkin setahun akan tidak bertemu.

Usaha keras itu tidak akan mengkhianati. Kamu memang dapat memilih apa saja yang berhak menjadi mimpimu. Tapi terkadang Allah juga membantumu untuk memilihkan mimpimu yang lebih baik dibandingkan dengan pilihanmu. Itulah perjuanganku masuk Politeknik Keuangan Negara STAN, mungkin perjuanganku yang selalu aku rasakan hanyalah aku tidak dapat melihat ayahku berjuang bersamaku dan tidak dapat ditemani ayahku saat aku sedang berjuang. Dengan usahaku dan perjuangan serta doa doa yang mengiringiku, pasti aku akan bersungguh sungguh menuntut ilmu di PKN STAN Pontianak tercinta.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.