Home » Tips dan Trik » PERCAYA DI AWAL vs PERCAYA DI AKHIR (MELANGKAH PASTI)

PERCAYA DI AWAL vs PERCAYA DI AKHIR (MELANGKAH PASTI)

Percaya di Awal vs Percaya di AkhirPercaya di Awal vs Percaya di Akhir

Sebagai seorang anak muda tentunya Anda begitu sering mendengarkan nasehat baik itu dari orang tua, guru Anda, maupun teman-teman terdekat Anda. Nah sekarang sejauh mana nasehat itu benar Anda dengarkan dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari Anda. Taukah Anda bahwasanya sebenarnya bukanlah orang tua yang memberi Anda nasehat melainkan Allah. Maksudnya Allah menggerakkan hati orang tua Anda dan mengilhami orang tua Anda kalimat-kalimat motivasi yang sebenarnya adalah rambu-rambu dalam kehidupan Anda. Jadi siapa yang sebenarnya menasihati Anda? Apakah orang tua Anda? Bukan, yang menasehati Anda adalah Allah karena Anda bukanlah Nabi ataupun Rasul yang untuk menerima wahyu diperlukan Malaikat. Allah tidak mungkin mengirimkan malaikan ataupun langsung berbicara dengan Anda. Namun Allah menggerakkan hati orang tua, guru Anda, maupun teman-teman Anda untuk menyampaikan rambu-rambu kehidupan yang harus Anda tempuh.

Sekarang kita akan berganti sudut pandang menjadi dari sisi Anda. Ketika Anda mendengarkan nasehat, apa yang Anda rasakan? Bosan, pusing, menghindar? Atau sebaliknya, Anda begitu antusias mendengarkan, memaknainya, mengingatnya, dan mencoba mengaplikasikannya dalam kehidupan Anda walaupun hanya beberapa persen saja?

Walaupun ketika dipikir-pikir benar, sebenarnya belum tentu orang tua, guru, maupun teman-teman Anda yang menasehati Anda itu belum tentu mengaplikasikan juga apa yang disampaikan kepada Anda. Namun yang perlu Anda maknai adalah nasehatnya, bukan siapa yang memberikan nasehat. Karena orang baik maupun orang buruk, semuanya sangat mungkin untuk digerakkan hatinya oleh Allah untuk menjadi penasehat Anda. Ketika Anda perhatikan dengan benar, sebenarnya begitu banyak nasehat yang masuk ke telinga Anda dalam kehidupan sehari-hari. Namun tanpa Anda sadari, Anda begitu cepat melupakannya.

Lalu apa kaitannya dengan percaya? Kenapa Saya menulis judul percaya di awal vs percaya di akhir? Ya tentu ada kaitannya, ketika Anda mendengarkan nasehat tentu hati Anda akan mengambil sikap mengenai nasehat tersebut. Pertama mungkin Anda tidak percaya dengan nasehat dari orang tua Anda dan menganggapnya sebagai ceramah yang membosankan dan Anda berdoa semoga orang tua Anda segera menyudahi ceramah tersebut.

Ini adalah percaya di akhir. Biasanya Anda yang begitu sering mengabaikan apa yang orang tua maupun orang-orang terdekat Anda nasehatkan, memiliki pikirian tertutup dan keangkuhan sehingga alih-alih mendengarkan nasehat tersebut Anda justru menyangkal, menjawab, dan mencoba mematahkan argumen-argumen yang orang tua atau orang-orang terdekat Anda kemukakan.

Kemalasan Anda, pemikiran negatif Anda, dan semua sumber-sumber yang yang menyebabkan Anda tidak percaya terhadap apa yang dinasehatkan pada akhirnya akan menjadi boomerang bagi Anda. Ketika waktu sudah berlalu, Anda akan menyadari bahwa sebagian teman-teman Anda sudah sukses, sebagian yang lain memiliki prestasi yang tinggi sedangkan Anda masih terpuruk menjadi manusia yang biasa-biasa saja atau bahkan manusia yang gagal. Penyesalan yang begitu dalam menyelimuti hati Anda. Rasa sedih, minder, malu menjadi perasaan Anda sehari-hari hingga Anda mengambil kesimpulan bahwa Tuhan tidak adil.

Apakah memang Tuhan tidak adil?

Coba pikirkan kembali apabila Anda megambil opsi kedua!

Opsi kedua adalah Anda menaruh perhatian penuh terhadap apa yang orang tua Anda katakan. Anda maknai satu-persatu kalimatnya, untuk nantinya Anda telaah ulang dan Anda coba sebisa mungkin untuk Anda aplikasikan. Anda berusaha menuruti apa yang dinasehatkan orang tua Anda karena Anda menganggap itu merupakan bukti bakti Anda kepada orang tua Anda.

Ketika Anda mempercayai apa yang dinasehatkan oleh orang tua Anda, maka itu tandanya Anda percaya di awal. Sumber kepercayaan itu berasal dari keinginan Anda seperti apa yang dinasehatkan orang tua Anda. Sumber lainnya adalah motivasi yang di sampaikan oleh orang tua Anda menancap di hati Anda dan benar-benar terngiang-ngiang di pikiran Anda. Selanjutnya mungkin Anda juga sering terinspirasi oleh tokoh-tokoh besar. Anda mencari biografinya dan membacanya. Hebatnya lagi, ketika orang tua Anda menasehati Anda, ternyata intinya sama persis dengan biografi yang sudah Anda baca. Disini Anda akan semakin yakin kepada nasehat yang disampaikan oleh orang tua Anda.

Apabila Anda ingin mempercayai nasehat di awal karena Anda menganggap itu penting, maka untuk memasukan keyakinan itu Anda perlu membuka pikiran Anda. Karena untuk menyerap semua intisari dari nasehat itu sendiri tergantung dari kehendak Allah. Apabila Anda mendapat hidayah, maka mudah bagi Anda uutuk mengaplikasikan nasehat tersebt. Namun apabila Anda tidak mendapatkan hidayah dari Allah, maka akan sangat sulit bagi Anda. Jangankan mengaplikasikannya, bahkan untuk menerimanya saja susah.

Anda perlu memahami bahwa semua nasehat itu pada dasarnya adalah untuk kebaikan Anda sendiri. Orang tua hanya ingin memberikan yang terbaik bagi Anaknya, tidak lebih. Begitupun dengan guru Anda, maupun teman Anda. Mereka tidak berharap lebih dari Anda. Setelah Anda yang sudah mengaplikasikan nasehat-nasehat yang datang kepada diri Anda, selanjutnya Anda akan merasakan bahwa semua yang Anda inginkan satu persatu terwujud. Kesuksesan-kesuksesan datang seiring berjalannya waktu. Anda semakin senang, bangga, percaya diri, dan puncaknya Anda akan bersyukur atas nikmat Allah dan berterima kasih kepada orang-orang yang senantiasa memberikan nasehat kepada Anda.

Tinggalkan Balasan